2 menit untuk membaca

Facebook memang pintar cari uang. Media sosial besutan Mark Zuckerberg ini membuat algoritma dimana konten yang sering muncul adalah konten yang paling banyak di-like dan dikomentarin. Awalnya mereka tampilkan konten ke 500 orang pertama. Jika responnya bagus, ia tampilkan ke lebih banyak orang. Dan buuum, konten jadi viral. Netizen juga betah menggunakan Facebook, karena kontennya sesuai dengan nuansa hati mereka. Pengiklan seneng, karena biaya lebih murah untuk menjangkau banyak orang. Bisnis lebih mulus.
Algoritma ini juga berlaku bagi konten politik. Pendukung 01 dijejali konten dukungan ke 01, karena di-like & dikomentari lebih banyak oleh pendukung 01. Begitupun konten dukungan ke-02 akan menyebar di pendukung 02. Algoritma media sosial berubah wujud menjadi tembok pemisah dua kelompok dengan narasi yang berlawanan. Masing-masing kelompok percaya dengan kebenaran narasi yg beredar di kelompoknya & menolak apapun kebenaran informasi dari sumber di luar tembok mereka.
Akibatnya, terbentuk polarisasi yang tajam. Istilah Cebong dan Kampret menggema laksana bunyi petasan di malam tahun baru. Masyarakat terbelah. Keluarga terpecah. Insiden tragis unjuk rasa Bawaslu yang menewaskan 6 orang, tak bisa dilepaskan dari fenomena ini. Pendukung 02 merasa menang. BPN sempat mengumumkan menang 62%, kemudian turun menjadi 54%. Narasi kecurangan menggema di dalam tembok narasi mereka. Bahkan ada yang mengatakan “hanya kecurangan yang mengalahkan 02.”
Ketika fakta berbicara lain, Jokowi unggul dengan selisih 16,9 juta suara, hanya satu argumentasi yang paling masuk akal bagi kelompok mereka yaitu kecurangan masif. 01 harus didiskualifikasi, tersisa satu calon, Prabowo-Sandi. Berbondong-bondong mereka mendatangi Bawaslu. Bahkan terjadi insiden panas. Batu dan petasan dilemparkan, asrama Polri dibakar di Petamburan. Gerai McD turut jadi korban. 6 orang tewas dalam insiden yang mengenaskan.

Sampai kapan seperti ini?

Menang kalah adalah hal biasa dalam kompetisi. Tapi bagaimana mengembalikan suasana adem penuh kekeluargaan saat kedua kubu saling berseberangan seolah tak mungkin dipersatukan?
Kita butuh sosok-sosok pendobrak tembok narasi yang memisahkan dan memicu pertikaian. Memang tidak nyaman. Sosok tersebut akan dianggap khianat atau abu-abu. Tapi kita butuh sosok tersebut untuk mendobrak tembok, membuka dialog dan menumbuhkan rasa saling memahami antar kedua kelompok yang bertikai. Sehingga energi bangsa tidak habis untuk menonjolkan perbedaan, bertengkar dalam semua hal, sehingga kita tidak lagi fokus bahwa kita punya kesamaan yaitu semangat untuk memajukan bangsa.

Siapa sosok tersebut?

Tentunya ia harus punya cukup pengaruh, didengar & diterima di kedua kelompok. Menurut saya SBY, AHY, Habibie, Cak Imin, Yenny Wahid dan Zulkiefli Hasan memenuhi kriteria tersebut.
Langkah AHY dan Yenny berkumpul di Bogor bersama tokoh-tokoh muda dari kedua kubu merupakan langkah yang tepat dalam konteks ini. Zulkiefli Hasan dan AHY bertemu Jokowi bisa dilihat sebagai langkah positif juga. Benar bahwa mereka punya agenda politik. Tapi apapun itu, manuver mereka sejalan dengan kepentingan bangsa kita saat ini yang susah kadung terpecah: rekonsiliasi. Jangan karena ada orang yang punya agenda politik tertentu, lantas kita melupakan PR besar bangsa kita merekatkan kembali persaudaraan yang retak akibat polarisasi politik.
Kompetisi sudah usai. Saatnya kita sama-sama mendobrak tembok algoritma narasi yang meretakkan hubungan persaudaraan kita. Karena pada akhirnya, bagaimanapun kompetisi politiknya, rakyat lah yang harus menang.