Pagi hari. Alarm ponsel berbunyi. Anda menggeser layar setengah sadar, membaca pesan sambil menyeruput kopi, memesan ojek, mengecek saldo, lalu menutup hari dengan menggulir linimasa tanpa benar-benar berpikir bagaimana semua itu bisa terjadi. Ponsel terasa biasa—bahkan sering kita omeli saat lemot atau baterainya cepat habis. Namun nyaris tak pernah kita renungkan satu hal sederhana: benda kecil di genggaman itu bekerja dengan tingkat kerumitan yang melampaui imajinasi manusia sehari-hari.

Lebih rumit dari bandara internasional, lebih sibuk dari pusat kota saat jam pulang kantor—namun semuanya terjadi dalam keheningan. Tanpa suara. Tanpa lampu peringatan. Tanpa kita sadari.
Setiap kali Anda menyentuh layar ponsel, Anda sebenarnya sedang mengoperasikan sebuah “kota metropolitan nanoscopic” yang luar biasa rumit. Di balik badan ponsel yang tipis, terdapat miliaran transistor yang bekerja seperti saklar angka satu dan nol, saling berpacu dalam kecepatan cahaya, memungkinkan segala kemudahan digital yang kini terasa remeh: navigasi, transaksi, komunikasi, hiburan, bahkan pekerjaan dan identitas sosial kita.
Namun, keajaiban ini hampir saja tidak pernah ada—jika bukan karena kegigihan sekelompok orang yang oleh zamannya dianggap tidak masuk akal.
Saat Ide Besar Dianggap “Cerita Isapan Jempol”
Perjalanan teknologi Extreme Ultraviolet (EUV) yang menggerakkan ponsel modern dimulai bukan dari tepuk tangan, melainkan dari penolakan. Pada tahun 1986, seorang ilmuwan Jepang, Hiroo Kinoshita, mempresentasikan gagasan menggunakan sinar-X untuk mencetak cip. Alih-alih decak kagum, yang ia terima justru senyum sinis. Ide itu dicemooh sebagai “cerita isapan jempol” (big fish story)—terlalu ambisius untuk dunia nyata.
Nasib serupa dialami Andrew Hawryluk. Saat memaparkan kemungkinan penggunaan cermin untuk litografi, ia secara harfiah ditertawakan hingga turun dari panggung oleh para tokoh yang selama ini ia kagumi. Itu adalah titik terendah dalam kariernya. Namun, alih-alih mundur, satu komentar pedas justru menantangnya untuk membuktikan bahwa yang dianggap mustahil itu layak diperjuangkan.
Martin van den Brink: Sang Pembela yang Berani “Bertaruh”
Di tengah gelombang keraguan global, muncul sosok Martin van den Brink dari ASML—sering dijuluki “Steve Jobs-nya litografi”. Ketika banyak perusahaan Amerika memilih menyerah karena hambatan teknis yang dinilai mustahil, Van den Brink justru mengambil keputusan yang nyaris nekat: ia melipatgandakan taruhannya (doubling down).
Bahkan sebelum teknologi EUV generasi pertama terbukti stabil, ia sudah memutuskan berinvestasi pada generasi berikutnya—High NA EUV. Keputusan ini membuatnya dan tim ASML melewati tahun-tahun penuh tekanan, di mana mereka “disalib” di setiap konferensi, dikejar janji teknologi yang terus meleset dari jadwal, dan dipertanyakan kewarasannya oleh industri sendiri.
Antara Sains dan Doa: Detik-Detik yang Menentukan
Sisi paling manusiawi dari kisah teknologi ini muncul justru ketika sains mencapai batasnya. Pada tahun 2013, saat daya mesin EUV mereka stagnan dan tak kunjung menembus target, Van den Brink dan Kinoshita pergi ke sebuah kapel kecil di Belanda. Mereka menyalakan lilin—bukan sebagai pengganti sains, melainkan sebagai pengakuan jujur bahwa manusia pun punya batas.
Keajaiban itu terjadi di saat-saat terakhir. Ketika Van den Brink dan dewan direksi ASML berada di dalam pesawat menuju Korea—untuk menghadapi pelanggan yang sudah kehilangan kesabaran—hasil eksperimen yang menunjukkan pencapaian target 200 watt akhirnya muncul tepat saat mereka mendarat. Terlambat beberapa jam saja, dan sejarah teknologi bisa mengambil arah yang sama sekali berbeda.
Mengapa Ini Penting bagi Kita?
Kegigihan merekalah alasan mengapa ponsel Anda tak berhenti menjadi lebih canggih setiap tahun. Tanpa EUV, Hukum Moore—gagasan bahwa daya komputasi berlipat ganda setiap dua tahun—akan berhenti total sekitar tahun 2015. Dunia digital akan membeku di satu titik.
Mesin yang mereka ciptakan mampu menyusun lapisan cip dengan ketepatan hingga lima atom—sebuah presisi yang setara dengan menunjuk sisi koin tertentu di permukaan Bulan dari Bumi.
Kisah ini mengingatkan kita pada satu kebenaran yang sering tak nyaman: kemajuan dunia hampir selalu lahir dari orang-orang yang dianggap tidak masuk akal. Mereka yang menolak menyesuaikan diri dengan dunia apa adanya, dan justru memaksa dunia menyesuaikan diri dengan visi mereka.
Di balik setiap aplikasi yang Anda buka, ada puluhan tahun kegagalan, miliaran dolar risiko, dan air mata para ilmuwan yang memilih bertahan—meski seluruh dunia berkali-kali mengatakan bahwa mereka sedang mengejar sesuatu yang mustahil.

